[Self Reading] Chinese Foreign Policy: An Introduction Chapter 1 by Marc Lanteigne

Disclaimer:

Tulisan ini semata-mata merupakan bentuk laporan bacaan mandiri dari mata kuliah Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Cina untuk pertemuan kedua dengan topik Evolusi Pelaksanaan Kebijakan Luar Negeri Cina dari Mao Zedong hingga Xi JinpingSubstansi tulisan belum teruji kebenarannya dan memiliki kekurangan, sehingga kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan. Adapun tulisan ini merupakan murni hasil interprestasi penulis terhadap bacaan yang telah diberikan oleh dosen dan tidak bermaksud untuk merugikan pihak mana pun.

Sumber utama: Lanteigne, Marc. Chinese Foreign Policy: An Introduction. New York: Routledge, 2009. Chapter 1.

Perubahan Kebijakan Luar Negeri Cina dari Masa ke Masa

Pembuatan kebijakan luar negeri Cina menjadi satu hal yang menarik untuk diikuti, karena terjadi beberapa perubahan dalam setiap kebijakan yang diambil oleh pemimpin Cina dari periode ke periode. Dua pemimpin pertama dari Republik Rakyat Cina, Mao Zedong dan Deng Xiaoping, memfokuskan pembuatan kebijakan domestik serta luar negeri. Di bawah pemerintahan Jiang Zemin pada tahun 1990an dan Hu Jintao pada tahun 2000an, kebijakan luar negeri Cina bergerak lebih ke konservatif.

            Pada tahun 2003, telah terjadi perpindahan pemerintahan dari Jiang Zemin ke Hu Jintao. Perpindahan ini dapat dikatakan merupakan perpindahan yang terjadi secara damai. Dalam pemerintahannya, Hu memiliki interest untuk memberantas kemiskinan dan mempromosikan kesetaraan ekonomi. Kedua kepentingan ini telah ditransformasi menjadi kebijakan luar negeri. Banyak kebijakan yang dikeluarkan oleh Hu mendukung adanya perkembangan perdagangan.

            Masa pemerintahan Jiang Zemin telah memberikan progres yang signifikan bagi perkembangan hubungan internasional Cina. Jiang telah berusaha membuka kontak dengan kawasan Pacific Rim dan bagian lainnya di dunia. Kemudian, Jiang juga berhasil mengembalikan Cina ke status internasionalnya. Meskipun demikian, Jiang tidak begitu sukses di kebijakan luar negeri di bidang lainnya. Sebagai contoh, hubungan Cina dengan Amerika Serikat yang malah menimbulkan mistrust di antara dua negara. Jiang juga gagal dalam mendekatkan Taiwan dengan daratan.

            Pada pemerintahan Hu Jintao, ada beberapa hal yang ditekankan oleh Hu. Bermula dari proteksi status quo internasional, serta perhatian yang cukup tinggi terhadap perkembangan perdagangan serta memakmurkan masyarakat dan ekonomi Cina. Akan tetapi, perbedaan mendasar dari kebijak Hu dan Jiang terletak pada konsentrasi wilayah mereka. Jiang memfokuskan diplomasinya ke sekitar negara-negara Asia dan negara besar seperti Amerika Serikat. Sedangkan Hu, ia lebih melebarkan diplomasinya ke Eropa, Amerika Latin, dan Afrika.

            Pembuatan kebijakan luar negeri Cina pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa badan pemerintahan. Cina sendiri dapat dikatakan sebagai bentuk party-state.  Secara teori, badan tertinggi dalam pemerintahan Cina adalah NPC yang bertemu lima tahun sekali untuk memutuskan kebijakan dan hukum yang baru. Ketika NPC tidak melakukan pertemuan, Central Commitee (CC) yang mengambil alih. CC sendiri elebih seperti approving body bagi kepemimpinan Cina. Kemudian, ada juga sekretariat kecil yang bertanggung jawab dalam keseluruhan keputusan birokratik pemerintah sehari-hari. Untuk kebijakan luar negeri, Kementrian Luar Negeri-lah yang menjadi pemimpin. Kemerntrian ini penting karena menjadi sumber informasi bagi para pembuat kebijakan di pemerintah Cina.

            Meskipun terlihat banyak sekali komponen dari aktor negara yang bermain dalam perumusan kebijakan luar negeri Cina, pada dasarnya, aktor non negara pun juga memiliki peran yang signifikan. Aktor non negara ini terdiri dari akademisi, think-thank, dan konsultan yang memiliki jejaring di luar negeri. Sehingga keberadaan dari aktor-aktor ini tidak dapat dinafikan begitu saja.

            Dalam tulisan Lanteigne ini, dinyatakan bahwa pada dasarnya Cina belum bisa dan mampu menjadi great power. Maka dari itu, status rising power lebih cocok bila disematkan untuk Cina. Sedangkan menurut Hu, Cina lebih ke membangun apa yang dinamakan comprehensive national power. Pemerintahan Hu sendiri menolak apabila dinyatakan bahwa Cina adalah great power. Karena masih banyak narasi-narasi yang dikembangkan oleh Hu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s