[Self Reading] Social Theory and the Politics of Identity Chapter 1 by Craig Calhoun

Disclaimer:

Tulisan ini semata-mata merupakan bentuk laporan bacaan mandiri dari mata kuliah Identitas Sosial dan Dinamika Globalisasi untuk pertemuan ketiga dengan topik Identitas Sosial dalam Masyarakat PluralSubstansi tulisan belum teruji kebenarannya dan memiliki kekurangan, sehingga kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan. Adapun tulisan ini merupakan murni hasil interprestasi penulis terhadap bacaan yang telah diberikan oleh dosen dan tidak bermaksud untuk merugikan pihak mana pun.

Rekognisi dan Identitas Politik

Sumber utama: Chapter 1 of, Calhoun, Craig. Social Theory and the Politics of Identity. Oxford: Blackwell Publisher, 2003.

Pluralitas, menurut Hannah Arendt, merupakan dasar dari kondisi manusia. Kita diciptakan berbeda dari yang lainnya. Seseorang, pasti memiliki perbedaan dengan orang lainnya. Meskipun mereka kembar sekalipun. Akan tetapi, setiap dimensi yang menggambarkan perbedaan, masih dapat memunculkan kesamaan dari beberapa hal yang berbeda. Hal ini merujuk pada rekognisi pihak lain terhadap kita dan orang-orang yang memiliki latar belakang yang sama dengan kita.

Tentunya, pembahasan mengenai pluralitas mau tidak mau harus juga membahas mengenai identitas. Foucault menyatakan bahwa kedisiplinan dapat menghasilkan individu yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa identitas pada dasarnya dapat dikonstruksi oleh masyarakat. Bagaimanapun, identitas kita berasal dari rekognisi orang lain terhadap kita. Maka dari itu, Calhoun menyatakan bahwa pada dasarnya, di era modern ini, akan terjadi peningkatan skema identitas yang multilayer.

                Dalam tulisannya, Calhoun menyatakan bahwa ada dua perspektif mengenai identitas, yakni esensialisme dan konstruksianisme. Kedua perspektif ini dapat dikatakan bertolak belakang. Pada esensialisme, dinyatakan bahwa identitas merupakan suatu hal yang didapat secara natural. Sesuatu hal yang given dan dihasilkan semata-mata oleh keinginan dari individu sendiri. Sebaliknya, konstruksionisme menyatakan bahwa identitas merupakan hasil konstruksi sosial yang dihasilkan dari interaksi dalam suatu lingkungan. Salah satu bidang yang cukup mempengaruhi terbentuknya identitas seseorang adalah politik.

Seperti yang telah disebutkan di atas, pada dasarnya identitas muncul karena adanya rekognisi. Ada dua bentuk dari rekognisi, yakni self-recognition dan others-recognition. Rekognisi ini tentunya dipengaruhi oleh lingkungan yang akhirnya menjadikan identitas menjadi identitas politik. Identitas politik sendiri bersifat kolektif, tidak lagi tentang individu maupun publik. Identitas ini muncul karena adanya tarik-menarik antara hubungan power yang tercipta dalam suatu interaksi. Kemudian, identitas politik sendiri bukanlah suatu hal yang benar-benar baru. Ia sudah mengakar sejak adanya gerakan-gerakan kritis pada awal 1800an.  Sehingga, identitas politik memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan kita.

Identitas merupakan sebuah proyek yang tidak pernah berakhir. Sehingga, identitas dapat terkonstruksi secara terus-menerus. Identitas dapat direkognisi secara berbeda oleh individu yang berbeda. Pada dasarnya, identitas selalu mengakar dari aspirasi ideal dan moral yang tidak sepenuhnya kita sadari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s