[Self Reading] Britain, France and the European Defence Initiative by Jolyon Howorth

Disclaimer:

Tulisan ini semata-mata merupakan bentuk laporan bacaan mandiri dari mata kuliah Dinamika Kawasan Eropa untuk pertemuan ketiga dengan topik Peran dan Hubungan antar Negara Besar Eropa (Inggris, Perancis, Jerman, dan Rusia)Substansi tulisan belum teruji kebenarannya dan memiliki kekurangan, sehingga kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan. Adapun tulisan ini merupakan murni hasil interprestasi penulis terhadap bacaan yang telah diberikan oleh dosen dan tidak bermaksud untuk merugikan pihak mana pun.

Perbedaan Pendapat Inggris dan Perancis mengenai Tata Kelola Keamanan di Kawasan Eropa

Sumber utama: Howorth, Jolyon. “Britain, France and the European Defence Initiative.” Survival 42, No. 2, (Summer, 2000): hlm. 33-55.

Terdapat dua pandangan mengenai European Security and Defence Policy (ESDP) atau yang biasa disebut sebagai Saint-Malo Process. Awal kemunculan inisiatif ini bermula dari rasa frustrasi yang dirasakan oleh Tony Blair sepanjang tahun 1998 mengenai perumusan kebijakan di Balkan. Perbedaan pandangan ini berputar pada, Paris menganggap bahwa kebijakan ini dapat menguatkan serta meningkatkan keseimbangan Aliansi Atlantik. Di lain sisi, London lebih menganggap bahwa adanya kebijakan ini dapat mengakibatkan Washington menjadi isolasionis dan NATO akan kolaps.

Ada empat alasan mengapa Saint-Malo Process menjadi sangat penting. Bahkan, dapat dikatakan sebagai langkah kualitatif menuju ESDP. Pertama, proses ini menggambarkan pergeserann besar dalam kebijakan keamanan Inggris. Kedua, Saint-Malo Process merupakan  ekspresi dari keinginan politik politik atas aspek kebijakan yang dapat dikatakan sensitive. Ketiga, Saint-Malo Process memunculkan dinamika dialog keamanan antara Brussels dan Washington. Keempat, dari perspektif militer, agenda Saint-Malo memperbolehkan pendekatan bottom-up.

Akan tetapi, ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh Saint-Malo Process sendiri. Dapat dikatakan bahwa proses ini merupakan proses jangka panjang. Proses ini hanyalah langkah pertama dalam membangun ESDP di kawasan Eropa. Sehingga, masih perlu berbagai peninjauan untuk perumusan dari ESDP. Kemudian, adanya perbedaan budaya keamanan antara dua negara besar di Eropa, yakni Inggris dan Perancis, menjadi salah satu tantangan yang harus dipertimbangkan. Tentunya, perbedaan budaya ini mengakibatkan harmonisasi tata kelola keamanan Eropa tidak dapat mejadi hal yang mudah. Terakhir, kerja sama di bidang keamanan ini merupakan kerja sama yang sensitif. Ada kemungkinan ketidakpercayaan yang akan terjadi saat kerja sama ini dilaksanakan.

Meskipun demikian, pada dasarnya Inggris dan Perancis menyetujui adanya kebutuhan akan inisiatif pertahanan. Maka dari itu, pada Juni 2000, Inggris dan Perancis menyetujui sepuluh prinsip dasar mengenai hal ini. Berikut merupakan beberapa prinsip yang mereka setujui, EU harus memiliki kapasitas militer yang lebih besar untuk pencegahan konflik, manajemen krisis, dan operasi peacekeeping dan EU dalam NATO harus bisa menjadi pihak yang secara otonom memutuskan sesuatu.

Pada akhirnya, ESDP dapat dikatakan sebagai pondasi bagi tata kelola keamanan di kawasan Eropa. Meskipun demikian, masih terdapat tantangan dalam pelaksanaan kebijakan ini karena adanya perbedaan mendasar yang dikemukakan oleh dua negaa besar di Eropa, yakni Perancis dan Inggris. Akan tetapi, di satu sisi, masih ada optimisme bahwa tata kelola ini dapat dilakukan dan diwujudkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s