[Reading Report] Geographies of International Education: Mobilities and the Reproduction of Social (Dis)advantage by Johanna L. Waters

Topik: Pergerakan Pelajar Asing

Sumber utama : Waters, Johanna. L.. “Geographies of International Education: Mobilities and the Reproduction of Social (Dis)advantage.” Geography Compass, vol. 6, No. 3 (2012): hlm. 123-136.

Pergerakan pelajar asing menjadi salah satu fokus kajian migrasi yang baru. Tulisan ini merupakan bentuk laporan bacaan dari artikel jurnal yang ditulis oleh Johanna L. Waters. Pendapat utama yang diungkapkan oleh Waters adalah, pendidikan internasional telah menyebabkan adanya kesenjangan sosial.

Pada awal tulisannya, Waters menyatakan bahwa artikel jurnalnya dapat memberikan perspektif kritis terhadap munculnya geografis pendidikan internasional, yang kemudian mungkin dapat memberikan “makna” pada reproduksi ketidakuntungan sosial. Waters menegaskan bahwa fokus dari tulisannya adalah pada hubungan antara internasionalisasi, pergerakan pelajar, dan reproduksi ketidakuntungan sosial.

Awalnya, kajian mengenai pergerakan pelajar asing belum banyak dibahas. Meskipun terkadang pelajar asing ini disamakan dengan migran profesional dan terampil. Akhirnya, pada awal 2000an, kajian mengenai pelajar asing ini mulai berkembang. Bahkan, Russel King menyatakan bahwa akan lebih baik apabila migrasi pelajar dibedakan dari migran profesional dan terampil.

Selanjutnya, Waters menjelaskan tentang perpsektif kritis dari internasionalisasi pendidikan. Menurutnya, pendidikan formal hanya dapat memberikan keuntungan bagi kelompok sosial tertentu, tidak bagi individu-individu yang tidak memiliki akses. Pada akhirnya, hal ini dapat menciptakan kesenjangan sosial yang merujuk pada perbedaan sistem pengetahuan internasional. Menurut Waters, keuntungan yang didapat oleh individu dan keluarganya dalam pendidikan internasional adalah adanya akumulasi modal. Salah satu modal yang penting adalah modal kebudayaan. Menurut Bourdieu, modal kebudayaan hadir dalam tiga bentuk prinsip: mengakar (dalam individu); terobjektivikasi (melalui objek kebudayaan); dan terinstitusionalisasi (dalam kualifikasi akademik). Akumulasi dari modal yang disebutkan sebelumnya berdampak pada pembentukan kembali status keluarga dan generasi selanjutnya dari pelajar yang melakukan migrasi.

Menurut Waters, berikut merupakan beberapa ciri yang dimiliki oleh pelajar asing; memiliki dukungan secara emosional maupun material dari keluarga dan teman; telah dibesarkan di lingkungan yang menghargai pendidikan formal; memiliki orang tua yang berpendidikan tinggi; dan memiliki pengalaman bepergian ke luar negeri sewaktu kecil.

Terdapat dua bentuk pola yang dijelaskan oleh Waters mengenai keluarga yang melakukan migrasi untuk pendidikan. Pertama adalah keluarga kirogi yang berasal dari Korea Selatan. Dalam keluarga kirogi, seorang anak biasanya ditemani ke luar negeri oleh ibunya, sedangkan ayahnya tetap tinggal di Korea Selatan untuk bekerja. Kemudian, ada pula bentuk keluarga “astronot” dan anak “parasut” atau “satelit”. Dalam rumah tangga astronot, seluruh keluarga pada awalnya melakukan emigrasi, dan setelah beberapa waktu, sang ayah kembali bekerja ke Asia Timur.

Mungkin yang menjadi pertanyaan adalah alasan mengapa seseorang mencari pendidikan yang lebih tinggi di luar negeri. Dalam hal ini, Waters menjelaskan bahwa memang ada beberapa faktor. Salah satunya, adanya kegagalan dalam sistem pendidikan domestik yang pada akhirnya memunculkan keputusan untuk mencari pendidikan di luar negeri. Meskipun demikian, yang dimaksud kegagalan ini dapat berbeda bagi setiap orang. Kegagalan ini dapat berarti ketidakmampuan untuk mengakses setiap univeritas domestik, atau program studi tertentu, dapat pula berbentuk penolakan dari institusi pendidikan tinggi paling elit di tingkat domestik.

Simpulan yang ditarik Waters adalah, pendidikan internasional masih dapat menyebabkan kesenjangan sosial karena tidak semua pihak dapat melakukannya. Lalu, alasan seseorang mencari pendidikan di luar negeri adalah karena adanya kegagalan sistem pendidikan domestik dan keinginan untuk mencari reputasi yang lebih baik. Pada dasarnya, pendidikan internasional merupakan bagian dari produksi, bukan reproduksi, dari kesenjangan sosial.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s