[Reading Report] Chapter 6 of International Relations in a Changing World 4th Edition by Joseph Frankel

Sumber utama : Frankel, Joseph. Chapter 6 of International Relations in a Changing World 4th Edition. New York: Oxford University Press.1988. hlm. 101-129

INTERAKSI ANTAR NEGARA: BENTUK ANALISIS MIKRO POLITIK INTERNASIONAL

“No state, not even the super-powers, is fully self-supporting,”—Joseph Frankel.

Interaksi antar negara menjadi salah satu hal yang patut dianalisis dalam politik internasional. Dalam menganalisis hal tersebut, terdapat dua tingkat analisis yang dapat digunakan, yakni: pertama pada tingkat macro-politics,  melihat interaksi sebagai fungsi dari koeksistensi negara dalam sistem internasional; dan kedua pada tingkat micro-politics, melihat negara dari perspektif individu. Pada dasarnya, sangatlah penting bagi analis untuk mengetahui mengapa negara berinteraksi sebelum mengetahui bagaimana negara-negara tersebut berinteraksi.

          Tulisan ini merupakan bentuk lapran bacaan dari tulisan Joseph Frankel dari bukunya yang berjudul International Relations in a Changing World. Pembahasan Frankel pada bab enam bukunya lebih kepada analisis mikro-politik dari politik internasional. Terlihat dari beberapa bagian dalam bab ini yang membahas tentang penggerak perilaku aktor, yang berbentuk core values, dan juga pembentuk perilaku, yang berbentuk role, self-sufficiency, interdependence dan kekuatan nasional.

Core Values and Vital Interest

Di antara kategori value dan interest yang bervariasi, negara menganggap yang paling terpenting adalah vital interest; para akademisi cenderung menggunakan istilah yang kurang-lebih sama, yakni core values. Secara tradisional, integritas teritori dan kemandirian politik suatu negara dianggap sebagai core values, setidaknya sampai dua abad terkahir. Kenyataannya, terkadang negara mengalami krisis teritori sehingga core value tradisional tidak dapat dianggap absolut karena kedaulatan tidak pernah lengkap dan perbatasan dapat ditembus. Core value tidak selamanya absolut dan kaku.

Bila mencari definisi modern atas core value dasar tradisional, maka muncullah istilah self-preservation. Dalam kondisi modern, self preservation didefinisikan bukan sebagai konsep integritas teritori dan kemandirian politik lagi. Akan tetapi ia didefinisikan secara lebih fleksibel dengan tidak hanya memperhatikan bidang politik, tapi juga struktur ekonomi-sosial dan kelonggaran terhadap unsur ideologi dan budaya.

Role, self-sufficiency and interdependence

Salah satu faktor penting dalam menentukan tindakan internasional dari suatu negara adalah dengan menemukan posisi dan fungsi negara tersebut dalam sistem internasional Faktor tersebut sering kali disebut sebagai role. Dari definisi, pada dasarnya konten dari role itu sendiri ambigu karena dua alasan. Pertama, karena sifat multifungsi negara yang memungkinkan kita untuk menggunakan berbagai kemungkinan tolak ukur. Kedua, definisi role dari negara pembuat keputusan tidak dapat diharapkan sama dengan definisi dari negara lainnya. Definisi yang berbeda-beda terhadap tindakan suatu negara, menimbulkan interpretasi yang bervariasi pula, menurut tolak ukur dan prioritas yang berbeda.

            Faktor selanjutnya yang perlu diperhatikan dalam tindakan internasional suatu negara adalah self-sufficiency. Konsep ini sedikit kabur dengan munculnya interdependence yang menimbulkan kepercayaan terhadap sistem internasional. Negara yang memiliki teritori yang besar dan sumber daya alam yang cukup, dapat dikatakan mampu memenuhi self-sufficiency-nya dari pada negara yang tidak memiliki hal yang sama. Setelah tahun 1945, seolah-olah muncul dua negara yang sanggup mencukupi self-sufficiency-nya, yakni Amerika Serikat dan Uni Sovyet. Akan tetapi pada tahun 1970-an, dua negara superpower ini pun kehilangan self-sufficiency mereka dan membutuhkan negara lain untuk mencukupi kebutuhan negaranya. Hal inilah yang menjadi dasar dari interdependence dari suatu negara.

Conflict, Competition, and co-operation

Interaksi antar negara kurang-lebih sama dengan interaksi yang terjadi pada manusia. Dua tipe hubungan antar negara yang pertama adalah cooperation atau kerja sama, keadaan saat tidak ada konflik dan pertarungan. Sedangkan yang kedua adalah konflik yang terjadi apabila tujuan yang berlaku hanyalah menyingkirkan lawan. Konflik itu ada tapi tidak bersifat absolut karena hal ini terjadi tergantung pada interest suatu kelompok.

            Hubungan antar negara terbentuk dari sifat negara dan masyarakat internasional. Ciri utama dari negara adalah, negara menganggap dirinya sebagai bentuk tertinggi dari organisasi manusia, tidak ada yang lebih unggul, dan negara diatur berdasarkan kepentingan.  Masyarakat internasional tidak serta-merta mengatur secara otoriter, meskipun beberapa aturan perilaku diatur oleh mereka.

            Dalam cooperation, persoalan yang dihadapi bukan hanya identifikasi tujuan yang sama dan metode yang digunakan untuk mencapai tujuan, tapi juga dalam pencapaian dari tujuan tersebut. Interaksi ini, dimana tidak mengandung konflik, tidak memfokuskan pada konflik dan power, tapi lebih kepada administrasi. Administrasi tidak hanya menghasilkan politik yang sukses tapi juga menawarkan solusi dari situasi konflik.

The Nature of National Power

            Power dari negara terdiri dari beberapa unsur penting, biasanya disebut sebagai capabilities. Power dari negara lebih baik dipahami melalui analisis dari tindakan mereka dari pada unsur statis mereka.

            Ada kemungkinan untuk mengkonseptualisasikan dan membandingkan power dari negara-negara individual dalam berbagai cara. Tiga dimensi yang terlihat penting adalah: weight, tingkat dimana target terpengaruhi; scope, aspek fungsional, sejauh mana power efektif dalam suatu wilayah; dan domain, aspek geografi, regional, subregional atau lingkup global dari power dan jumlah negara yang terpengaruhi. Meskipun power memainkan role yang cukup penting, tapi tidak selamanya power menjadi fokus dari negara karena isu-isu non-politik sudah cukup berkembang.

Capabilities.

            Kapabilitas merupakan perhitungan dari potensial negara dalam memiliki power. Kapabilitas negara dapat dilihat dari beberapa unsur: pertama, populasi. Tidak diragukan bahwa power dari suatu negara berhubungan dengan ukuran dari populasi negara tersebut; kedua, geografi. Yang dimaksud dalam aspek geografi tidak sebatas luas wilayah, tapi bentuk, lokasi, dan juga topografi dari negara tersebut; ketiga, Ekonomi. Basis ekonomi negara modern menjadi penting dalam keadaan damai maupun perang. Hal ini menentukan kondisi kehidupan masyarakat dari negara tersebut; keempat, pemerintah dan organisasi militer. Unsur potensial dari power berguna bila diatur secara efisien, hal inilah yang menjadi alasan pentingnya pemerintah; kelima, unsur psikologi-sosial, merupakan kategori yang memasukkan unsur yang tidak nyata dan tidak termasuk dalam kategori sebelumnya; dan terakhir, posisi strategis internasional. Power negara tidak hanya ditentukan oleh kombinasi dari seluruh unsur power yang telah disebutkan, tapi juga dari posisi negara di dunia.

            Tidak ada negara yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, semuanya bergantung pada aliansi militer, kawan dalam diplomasi dan supplier, serta pasar dalam perdagangan.

Ada beberapa poin yang penulis setujui dari tulisan Frankel. Pertama, Penulis setuju dengan pendapat Frankel bahwa core values dari negara sudah tidak lagi fokus pada integrasi teritori dan kemandirian politik karena di dunia kontempoere seperti sekarang, yang menjadi fokus dari negara bukan hanya tentang teritori maupun politik saja. Banyak bidang-bidang non politik yang perlu diperhatikan oleh negara. Bidang lainnya yang dimaksudkan adalah ekonomi dan budaya. Perubahan core values juga mempengaruhi perubahan dari national interest.

Sebagai contoh, Amerika pasca perang dingin mengubah national interest-nya yang pada awalnya hanya fokus pada perluasan kekuasaan menjadi fokus pada kesejahteraan, demokratisasi dan juga perdamaian.[1] Salah satu faktor yang mempengaruhi kesejahteraan suatu negara didapat dari kesejahteraan ekonomi. Hal ini merupakan salah satu contoh bahwa bidang ekonomi sudah menjadi perhatian dari national interest suatu negara.

            Yang kedua, penulis juga setuju dengan pernyataan bahwa tidak ada satu pun negara yang mampu mencapai self-sufficiency. Dalam suatu negara, tidak semua sumber daya dimiliki oleh negara tersebut. Pasti ada beberapa sumber daya yang harus didapatkan melalui negara lain.

            Sesuai yang dikatakan oleh Holsti, ciri dari suatu negara baik geografi, demografi maupun ekonomi membentuk kebutuhan sosial umum yang hanya bisa dipenuhi melalui transaksi dengan negara lain. Ukuran negara, populasi, distribusi sumber daya alam, iklim, dan topografi menjadi hambatan dari perkembangan sosial-ekonomi, hal ini membutuhkan interaksi dengan negara lain dan akses ke daerah lainnya di dunia.[2] Beberapa negara yang tidak memiliki cukup sumber daya alam, memiliki ketergantugan yang cukup tinggi pada perdagangan luar negeri untuk memenuhi standar kehidupannya atau self-sufficiency-nya.

           Memang ada dua pihak, Amerika Serikat dan Uni Sovyet, yang berhasil mendekati self-sufficiency, tapi hanya berlaku sebentar dan kemudian mereka bergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan negaranya. Sepertinya yang sudah dijelaskan oleh Frankel bahwa baik Amerika Serikat maupun Uni Sovyet melakukan impor untuk mendapatkan bahan mentah. Jelaslah bahwa dua negara yang dipandang super power pun membutuhkan negara lain untuk mencukupi kebutuhan negaranya.

            Pada akhirnya, dari tulisan Frankel ini dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu negara tidak dapat berdiri sendiri. Meskipun negara tersebut memiliki semua unsur power dalam kuantitas yang cukup besar, tidak serta-merta negara tersebut dapat bertahan tanpa berinteraksi dengan negara lain. Interaksi yang dilakukan oleh negara tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dari negara tersebut, tapi juga merupakan bagian dari cara negara untuk mempertahankan posisinya di dunia internasional.

REFERENSI

[1] Condoleeza Rice, “Promoting the National Interest,” Forreign Affairs 79, No. 1 (Jan-Feb, 2000): hlm. 62.

[2] K.J. Holsti, International Politics: A Framework for Analysis, (New Jersey: Prentice Hall, Inc, 1967), hlm. 173-175.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s